Kak Pusdiklatcab Parahyangan Kak Saeful Akbar M.Pd ditemani Kak Yana Mulyana M.Pd. menjadi Pemateri Pada acara diseminasi Pramuka Pancawaluya Ngajati Diri

Beleendahh, 5 September 2026 Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Bandung melalui bidang Bina Wasa menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Pramuka Pancawaluya Ngajati Diri sebagai bagian dari kegiatan pengimbasan program yang diselenggarakan oleh Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat.

Dalam kegiatan tersebut, Kak Saeful Akbar, M.Pd., selaku Kapusdiklatcab Parahyangan, hadir sebagai pemateri dengan didampingi Kak Yana Mulyana, M.Pd., pelatih Pusdiklatcab Parahyangan. Keduanya memberikan materi yang tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai kepramukaan, tetapi juga mengangkat kekayaan budaya Sunda, filosofi Pancawaluya, serta pentingnya menjaga dan memanfaatkan lingkungan sekitar.

Kak Saeful Akbar dalam penyampaian materinya mengangkat historis dan nilai-nilai kesundaan yang saat ini mulai kembali digiatkan dalam Gerakan Pramuka Jawa Barat. Menurutnya, berbagai nilai luhur yang terdapat dalam budaya Sunda ternyata memiliki keterkaitan dan keselarasan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Dasa Darma Pramuka.

Salah satu kekayaan budaya yang menjadi perhatian adalah berbagai permainan tradisional atau yang lebih dikenal dengan istilah kaulinan urang lembur. Permainan-permainan tersebut kini mulai hilang dan semakin jarang dikenal oleh anggota Pramuka generasi masa kini. Padahal, di balik berbagai permainan tradisional tersebut terdapat banyak nilai pendidikan karakter dan kepramukaan yang dapat dipelajari.

Kaulinan urang lembur tidak hanya menjadi bentuk permainan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, kerja sama, kreativitas, sportivitas, keberanian, kepedulian, serta kecintaan terhadap lingkungan dan budaya setempat. Nilai-nilai tersebut pada dasarnya sangat dekat dengan semangat pendidikan kepramukaan.

Oleh karena itu, melalui konsep Pramuka Pancawaluya Ngajati Diri, anggota Pramuka diharapkan tidak melupakan akar budaya Sunda yang memiliki kekayaan nilai luar biasa. Pengenalan kembali budaya Sunda kepada generasi muda menjadi bagian penting agar mereka dapat memahami bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan kepramukaan, melainkan memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan Dasa Darma Pramuka.

Sementara itu, Kak Yana Mulyana, M.Pd. menyampaikan materi dari aspek filosofis Pancawaluya, khususnya bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dikenalkan dan diterapkan oleh generasi muda, termasuk Generasi Z dan generasi milenial.

Menurut Kak Yana, terdapat banyak filosofi Sunda yang terkandung dalam Pramuka Pancawaluya Ngajati Diri dan sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Nilai-nilai tersebut perlu terus dikenalkan agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya Sunda secara simbolis, tetapi juga mampu memahami dan mengamalkan filosofi yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain membahas filosofi Pancawaluya, Kak Yana juga memberikan perhatian terhadap pemanfaatan dan pelestarian alam sekitar. Ia mengaitkannya dengan kearifan lokal masyarakat Sunda yang tercermin dalam peribahasa, “Alam bakal nyaah ka urang mun urangna ngarawat jeung ngajaga alam.”

Filosofi tersebut menjadi landasan dalam memberikan pemahaman kepada anggota Pramuka bahwa alam akan memberikan manfaat apabila manusia mampu merawat dan menjaganya. Kecintaan terhadap alam, menurutnya, tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar, tetapi dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Dalam materinya, Kak Yana memberikan contoh sederhana mengenai pemanfaatan lingkungan sekitar agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Salah satunya dengan menanam tanaman yang bermanfaat, seperti cengek dan cabai, di lingkungan rumah maupun lingkungan sekitar. Selain itu, anggota Pramuka juga diajak untuk memanfaatkan sisa makanan yang sudah tidak terpakai untuk diolah menjadi pupuk secara mandiri.

Langkah-langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi anggota Pramuka. Mereka tidak hanya diajarkan untuk mencintai alam, tetapi juga diarahkan agar mampu melihat lingkungan sebagai sumber manfaat yang harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara bijaksana.

“Hal ini mengajarkan kepada Pramuka bahwa cinta alam dan kasih sayang sesama manusia sejalan dengan Pramuka Pancawaluya Nu Ngajati Diri,” ujar Kak Yana.

Kegiatan Diseminasi Pramuka Pancawaluya Ngajati Diri ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pendidikan kepramukaan yang berakar pada nilai budaya lokal. Melalui pengenalan kembali sejarah dan budaya Sunda, kaulinan urang lembur, filosofi Pancawaluya, serta praktik nyata dalam menjaga dan memanfaatkan lingkungan, anggota Pramuka diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter kuat sekaligus tidak kehilangan jati dirinya.

Program pengimbasan yang dilaksanakan oleh Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Bandung melalui bidang Bina Wasa ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dengan Pusdiklatcab Parahyangan dalam meningkatkan kualitas pembinaan anggota Pramuka.

Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Sunda dan mengintegrasikannya dengan pendidikan kepramukaan, Pramuka Pancawaluya Ngajati Diri diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah konsep, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan anggota Pramuka. Generasi muda diharapkan mampu mencintai budaya, menjaga alam, menghargai sesama, serta mengamalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu dalam kehidupan sehari-hari.(***Tsn Pusinfo)